Segelas
susu hangat dan sepiring potongan kentang dan sausnya menemani dinginnya malam
ku hari ini. Aku masih terduduk didepan layar laptop yang masih menyala dengan
tatapan mata yang kosong. Sunyi,gelap,hampa yang kurasakan sekarang, tidak ada
lagi yang mengisi hari-hari ku lagi ,tidak ada yang membuat jutaan warna hadir
disetiap hari yang aku lewati,senyum ceria yang biasa hadir dibibir ku hilang
sudah. Hari ku menjadi abu-abu. Jutaan warna yang aku miliki telah hilang
bersamaan dengan hilangnya seseorang yang telah hadir membawa jutaan warna
tersebut.
Pria itu
yang hobinya bermain bola dan bermain gitar, berambut hitam dan terdapat poni
menutupi dahinya, yang saat tersenyum terlihat kawat gigi berjejer rapi
digiginya,yang satu tahun umurnya lebih tua dari ku telah menghilang dari
kehidupan ku saat ini. Pria itu membawa pengaruh besar di dalam hidup ku,selalu
membuat ku tersenyum saat membaca pesan singkatnya, yang selalu membuat pipi ku
memerah saat ia mengeluarkan kata-kata romantisnya. Pria itu selalu hadir dalam
hari hari ku,menemani ku hingga larut malam bahkan dari pagi bertemu pagi lagi.
Aku selalu merasa nyaman saat bersamanya, seakan-akan jari-jari ini tidak ingin
berhenti menekan-nekan tombol keypad handphone. Memang kita tidak pernah
bertemu, tapi entah mengapa aku selalu larut dalam percakapan yang membuat ku nyaman dan tak ingin kehilangannya.
Semua rasa
nyaman yang aku rasakan selama kurang lebih 2 tahun kini sudah tidak ada lagi.
Sosok pria yang selalu mewarnai hari-hari ku dulu sudah menghilang. Tidak ada yang mengisi hari-hari ku,membuat
aku tersenyum dan tidak ada lagi yang selalu membuat ku terus menatap layar
handphone. Dia yang pesannya selalu aku tunggu itu memilih pergi dari hidup ku
karena kesalahan yang aku buat sendiri.
Ulah konyol
itu membuat aku jauh dari sosok yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi ku. Ya! Aku
memang bodoh! Sangat-sangat bodoh. Aku sendiri tidak menyangka akan melakukan
hal sebodoh ini hingga membuat ia membenci ku seperti ini. Marah,jengkel,galau,menyesal
semua menjadi satu dalam pikiran ku. Air mata membasahi pipi ku ketika
mengetahui ia mendelcont bbm, menunfollow twitter dan instagram ku. Sebenci
itukah dia pada ku? Hingga dia tidak mau tahu lagi tentang ku?
Bukan
salahnya jika dia benar benar membenci ku, tapi ini salah ku yang membuatnya
menjadi seperti ini. Aku selalu mencoba mencari-cari keberadaannya, terus
berusaha meng-invite pin bbmnya kembali. Tetapi… tidak semudah itu, dia tetap
mengabaikan itu dan terus membenci ku.
Hingga suatu
saat aku menemukan jejaknya, ya. Kontak linenya masih tersimpan di handphone
ku. Aku mencoba memberanikan diri untuk meminta maaf, awalnya aku sempat ragu
dan mengerungkungkan niat ku itu, karena aku tahu apa hasilnya. Dia tidak akan
membalas pesan singkat ku itu. Tetapi kali ini aku harus benar-benar memberanikan diri karena
jika tidak melakukannya aku akan kehilangan sosok itu selamanya.
Jari-jari
ku mulai menekan satu persatu tombol keypad yang ada handphone ku hingga membentuk
rangkaian kata dan akhirnya aku menekan tombol enter untuk mengirim pesan
tersebut. Mataku tidak berhenti menatap layar handphone ku, sedikit lelah
menuggu huruf R keluar. Menandakan pesan itu sudah dibaca. Tak lama kemudian….
Huruf yang aku tunggu-tunggu itu akhirnya muncul. Perasaan ku saat itu tak
karuan entah aku harus bagaimana saat melihat huruf itu. Senang? Sedih?
Gelisah? Atau bagaimana? Aku tak tahu lagi... Semua tercampur aduk . aku berharap ia akan membalas pesan ku,tapi
mungkin harapan ku terlalu tinggi. Led handphone ku tidak menyala tidak ada
pesan yang mampir disitu, aku tidak meyerah sampai disitu aku mengetik pesan
lagi. Untuk memastikan apakah ia benar-benar tidak mau membalas pesan singkat
ku?. Kutekan tombol enter untuk mengirim pesan itu lagi dan hasilnya tetap
sama, ia hanya membaca dan enggan membalasnya.
Air mata
terus menetes,menyesali semua yang telah terjadi. Aku terlalu lemah mengisi
hari ku sendirian. Aku merindukan kita… :’)